Kamis, 10 Juli 2014

Jawa Barat

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/07/West_Java_coa.png/220px-West_Java_coa.png
LAMBANG JAWA BARAT

Slogan :
Gemah Ripah Repeh Rapih
(Makmur, Sentosa,Sederhana,Rapih)

Suku Bangsa, Agama & Bahasa yang ada di Jawa Barat :
  1. Sunda (73,73%)
  2. Jawa (11,04%)
  3. Betawi (5,33%)
  4. Cirebon (5%)
  5. Batak (0,77%)
  6. Minangkabau (0,47%) 
  7. Tionghoa (0,46%)
  1. Islam (97%)
  2. Protestan (1,81%)
  3. Katolik (0,58%)
  4. Buddha (0,22%)
  5. Hindu (0,05%)
  6. Kong Hu Cu (0.03%)
  1.  Bahasa Sunda
  2. Bahasa Cirebonan 
  3. Bahasa Cirebon dialek Indramayu 
  4. Bahasa Melayu dialek Betawi (Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat (Perda Prov. Jabar) No. 5 Tahun 2003)
 Zona Waktu: WIB
 Kabupaten:   17
 Kota:              9
 Kecamatan:   558
 Desa/Kel:      5.778



Situs web: http://www.jabarprov.go.id



GEOGRAFI 


Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan dengan
  • Laut Jawa di utara 
  • Jawa Tengah di timur
  • Samudera Hindia di selatan
  • Banten dan DKI Jakarta di barat.

Kawasan pantai utara merupakan dataran rendah. Di bagian tengah merupakan pegunungan, yakni bagian dari rangkaian pegunungan yang membujur dari barat hingga timur Pulau Jawa. Titik tertingginya adalah Gunung Ciremay, yang berada di sebelah barat daya Kota Cirebon. Sungai-sungai yang cukup penting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.

PENDUDUK
 
Mayoritas penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. 
Di Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon dan Kabupaten Kuningan dituturkan bahasa Jawa dialek Cirebon, yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dialek Brebes. 
Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti sebagian Kota Bekasi, Kecamatan Tarumajaya dan Babelan (Kabupaten Bekasi) dan Kota Depok bagian utara dituturkan bahasa Melayu dialek Betawi.
 Jawa Barat merupakan wilayah berkarakteristik kontras dengan dua identitas; masyarakat urban yang sebagian besar tinggal di wilayah JABODETABEK (sekitar Jakarta) dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan yang tersisa.
Pada tahun 2002, populasi Jawa Barat mencapai 37.548.565 jiwa, dengan rata-rata kepadatan penduduk 1.033 jika/km persegi. Dibandingkan dengan angka pertumbuhan nasional (2,14% per tahun), Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat terendah, dengan 2,02% per tahun.

Penggunaan bahasa daerah kini mulai dipromosikan kembali. Sejumlah stasiun televisi dan radio lokal kembali menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada beberapa acaranya, terutama berita dan talk show, misalnya Bandung TV memiliki program berita menggunakan Bahasa Sunda serta Cirebon Radio yang menggunakan ragam Bahasa Cirebon Bagongan maupun Bebasan. Begitu pula dengan media massa cetak yang menggunakan bahasa sunda, seperti majalah Manglé dan majalah Bina Da'wah yang diterbitkan oleh Dewan Da'wah Jawa Barat.

PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Perlindungan dan proses pengembangan Budaya dan Bahasa yang ada di Jawa Barat secara kongrit dimulai dengan adanya Kongres Jawa Barat, kongres Jawa Barat merupakan sebuah wadah berkumpulnya para tokoh masyarakat Jawa Barat untuk membicarakan berbagai persoalan sosial-kemasyarakatan yang ada di Jawa Barat

PENDIDIKAN BAHASA CIREBON
Tahun 1970-an Pemerintah memasukan Pelajaran Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya (Baku) untuk wilayah Cirebon dan Indramayu yang masih termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat dimana mayoritas penduduknya menggunakan Bahasa Sunda, namun ternyata guru pengajar dan muridnya tidak memahami kosakata yang digunakan tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk tidak mengajarkan Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya (Baku) di wilayah Cirebon-Indramayu

Kekosongan pelajaran muatan lokal bahasa daerah ini kemudian berusaha diisi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan memasukan pelajaran bahasa daerah Bahasa Sunda, oleh karenanya pada periode tahun 1970-an bahasa daerah yang diajarkan di wilayah Cirebon - Indramayu adalah Bahasa Sunda karena dianggap akan lebih mudah dimengerti karena para pemakai bahasa Sunda “lebih dekat”. 

Akan tetapi, ternyata kebijaksanaan itu pun tidak tepat sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya, yaitu Bahasa Jawa dialek Cirebon kemudian pada periode tahun selanjutnya pengajaran Bahasa Cirebon ini mulai untuk diajarkan di wilayah "Pakaleran Majalengka" yaitu wilayah utara kabupaten Majalengka yang mayoritas penduduknya merupakan keturunan Prajurit Majapahit, pada wilayah Pakaleran ini kosakata Bahasa Jawa dialek Banyumasan, Bahasa Jawa dialek Bumiayu serta Bahasa Jawa dialek Tegal lebih terasa, contohnya pada penyebutan kata "saya" yang menggunakan sebutan "Nyong" dan bukannya "Ingsun" ataupun "Reang" seperti yang dituturkan di wilayah Cirebon - Indramayu

Namun pengajaran bahasa daerah pada periode tersebut belum memiliki payung hukum, karena Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya mengindikasikan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah tanah Sunda, dengan mayoritas suku sunda yang bertutur bahasa sunda, baru setelah tahun 2003 dengan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 tentang Perlindugan dan Pengembangan Budaya dan Bahasa di Jawa Barat yang mengakui adanya tiga suku asli jawa barat yaitu Sunda, Melayu-Betawi dan Cirebon, pengajaran bahasa daerah non-sunda memiliki perlindungan payung hukumnya, adapun pergerakan untuk menjadikan bahasa cirebon sebagai sebuah bahasa yang mandiri yang terlepas dari Bahasa Jawa maupun Sunda dilakukan dengan sebuah Metode yang disebut dengan "Metode Guiter" namun pada perhitunganya metode tersebut baru mencatat sekitar 75% perbedaan antara Bahasa Cirebon dengan Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya, sementara untuk diakui sebagai sebuah bahasa mandiri diperlukan sedikitnya 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya. 

Namun secara nyata, penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa daerah Cirebon dan Indramayu pada periode tahun 2000-an sudah dilakukan dengan tidak menyebutkan Cirebon sebagai sebuah dialek Bahasa Jawa dan hanya disebutkan "Bahasa Cirebon" dan bukannya "Bahasa Jawa dialek Cirebon" seperti yang dilakukan pada penerbitan "Kamus Bahasa Cirebon" oleh Almarhum Bapak TD Sudjana dan kawan-kawan tahun 2001 dan "Wykarana - Tata Bahasa Cirebon" oleh Bapak Salana tahun 2002

PENGEMBANGAN BAHASA CIREBON
Pengembangan dan Perlindungan Bahasa yang diamanatkan oleh Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 dalam kaitannya dengan pengembangan Bahasa Cirebon hanya terjadi disekitar wilayah eks-karesidenan Cirebon yaitu (Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, sebagian wilayah Kabupaten Majalengka dan sebagian wilayah Kabupaten Kuningan) sementara wilayah kabupaten lainnya yang juga didiami oleh Suku Cirebon seperti wilayah Kabupaten Subang sebelah utara dan sebagian wilayah Kabupaten Karawang di Pesisir Timur hingga tahun 2011 (delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003) diterbitkan belum juga mendapatkan pengajaran Bahasa Cirebon, adanya ketidakmerataan pengajaran bahasa daerah di Jawa barat ini dikarenakan pemerintah memberikan hak sepenuhnya kepada Pemerintah Daerah di setiap Kabupaten / Kota untuk menentukan sendiri pengajaran bahasa daerah yang ada diwilayahnya.

PERGURUAN TINGGI NEGERI
 
  • Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati, Cirebon
  • Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Sumedang
  • Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor.
  • Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung.
  • Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung (POLTEKKES),Bandung
  • Politeknik Manufaktur Bandung (POLMAN), d/h Politeknik Mekanik Swis-ITB Bandung, Bandung.
  • Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), d/h Politeknik ITB Bandung,Bandung.
  • Politeknik Negeri Sukabumi (Polsu), Sukabumi
  • Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS Bandung), Bandung.
  • Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB), d/h National Hotel Institute (NHI), Bandung.
  • Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI Bandung), d/h ASTI Bandung, Bandung.
  • Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT), d/h Institut Teknologi Tekstil (ITT), Bandung.
  • Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD), Bekasi
  • Universitas Indonesia (UI), Kota Depok.
  • Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN Bandung), Bandung
  • Universitas Padjadjaran (Unpad), dengan lokasi kampus di,Bandung dan Sumedang.
  • Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), d/h IKIP Bandung, Bandung.
  • Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon
PERGURUAN TINGGI SWASTA

  • Institut Teknologi Nasional (Itenas), di Bandung
  • Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), di Tasikmalaya
  • Institut Teknologi Telkom (IT Telkom), di Bandung
  • Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), di Bandung
  • Universitas Katolik Parahyangan (Unpar),di Bandung
  • Universitas Langlangbuana (UNLA), di Bandung
  • Universitas Kristen Maranatha ,di Bandung
  • Universitas Islam Bandung (Unisba),di Bandung
  • Universitas Pasundan (Unpas), di Bandung
  • Universitas Widyatama (UTAMA), di Bandung
  • Universitas Garut (UNIGA), di Garut
  • Universitas Islam Nusantara (UNINUS), di Bandung
  • Universitas Siliwangi (unsil), di Tasikmalaya
  • Universitas Galuh (unigal), di Ciamis
  • Universitas Ibn Khaldun Bogor (UIKA), di Bogor
  • Universitas Pakuan (Unpak), di Bogor
  • Universitas Komputer Indonesia (Unikom), di Bandung
  • Universitas Winaya Mukti (Unwim), di Jatinangor Sumedang
  • Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), di Jatinangor Sumedang
  • Universitas Sebelas April (Unsap), di Sumedang
  • Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI), di Bandung
  • Universitas Majalengka (UNMA), di Majalengka
  • Universitas Kuningan (UNIKU) , di Kuningan
  • Sekolah Tinggi Kesehatan Kuningan (STIKKU) , di Kuningan
  • Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI Al-IHYA) , di Kuningan
  • Universitas Bale Bandung (UNIBBA) , di Bandung
  • Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Al-Ishlah (STEI Al-ISHLAH) , di Cirebon
  • Sekolah Tinggi Teknologi Nusa Putra (STT NUSA PUTRA), di Sukabumi
  • Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI Al-AMIN) , di Sukabumi
  • Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer Tasikmalaya (STMIK Tasikmalaya) , di Kota Tasikmalaya
  • Universitas Wiralodra (UNWIR) , di Indramayu
  • Universitas Subang (UNSUB), di Subang
  • Universitas Gunadarma (UG), di Depok
  • Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), di Sukabumi
  • Universitas Sukabumi (UNSU), di Sukabumi
  • Universitas Singaperbangsa (UNSIKA) di Karawang
  • Universitas Purwakarta (UNPUR) di Purwakarta
  • Universitas Sutan Mahesa (UNSUMA), di Sukabumi Utara
  • STIE DR.KHEZ Muttaqien (STIE Muttaqien) di Purwakarta
  • Universitas Islam "45" (UNISMA), di Bekasi
  • Politeknik Pos Indonesia (POLPOSINDO), di Bandung
  • Universitas Muhammadiyah Bandung (UNIMBA), di Bandung
  • Universitas Suryakancana (UNSUR), di Cianjur
  • Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), Cirebon
  • Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI), Cirebon
  • Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) , Cirebon

Jawa Barat terdiri atas 17 kabupaten dan 9 kota. Kota-kota hasil pemekaran sejak tahun 1996 adalah:
  • Kota Bekasi, dimekarkan dari Kabupaten Bekasi pada tahun 1996
  • Kota Depok, dimekarkan dari Kabupaten Bogor pada tahun 1999
  • Kota Cimahi, dimekarkan dari Kabupaten Bandung pada tahun 2001
  • Kota Tasikmalaya, dimekarkan dari Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2001
  • Kota Banjar, dimekarkan dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2002
  • Kabupaten Bandung Barat, dimekarkan dari Kabupaten Bandung tahun 2007
  • Kabupaten Pangandaran, dimekarkan dari Kabupaten Ciamis tahun 2012
No. Kabupaten/Kota Ibu kota Bupati/Walikota
1 Kabupaten Bandung Soreang Dadang Nasser
2 Kabupaten Bandung Barat Ngamprah Abu Bakar
3 Kabupaten Bekasi Cikarang Neneng Hasanah Yasin
4 Kabupaten Bogor Cibinong Rachmat Yasin
5 Kabupaten Ciamis Ciamis Engkon Komara
6 Kabupaten Cianjur Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh
7 Kabupaten Cirebon Sumber Sunjaya Purwadi Sastra
8 Kabupaten Garut Tarogong Kidul Rudi Gunawan
9 Kabupaten Indramayu Indramayu Anna Sophana
10 Kabupaten Karawang Karawang Ade Swara
11 Kabupaten Kuningan Kuningan Utje Hamid Suganda
12 Kabupaten Majalengka Majalengka Sutrisno
13 Kabupaten Pangandaran Parigi Endjang Naffandy
14 Kabupaten Purwakarta Purwakarta Dedi Mulyadi
15 Kabupaten Subang Subang Ojang Sohandi
16 Kabupaten Sukabumi Pelabuhanratu Sukmawijaya
17 Kabupaten Sumedang Sumedang Ade Irawan
18 Kabupaten Tasikmalaya Singaparna UU Ruzhanul Ulum
19 Kota Bandung - Ridwan Kamil
20 Kota Banjar - Herman Sutrisno
21 Kota Bekasi - Rahmat Effendi
22 Kota Bogor - Bima Arya
23 Kota Cimahi - Atty Suharti Tochija
24 Kota Cirebon - Ano Sutrisno
25 Kota Depok - Nurmahmudi Ismail
26 Kota Sukabumi - Mohamad Muraz
27 Kota Tasikmalaya - Budi Budiman
http://1.bp.blogspot.com/-r3muASZmLIA/UPCu8nd6GJI/AAAAAAAABCw/i_AVrPBIDa4/s1600/Jawa+barat.jpg
    
          

Selasa, 08 Juli 2014

TRIMURTI



http://3.bp.blogspot.com/-Xayh4Q6cWKk/UF8zPftmGPI/AAAAAAAAB5g/eAhTUmmAElQ/s1600/trimurti1.jpg 
Trimurti adalah tiga kekuatan Brahman (Sang Hyang Widhi) (sebutan Tuhan dalam agama Hindu) dalam menciptakan, memelihara, melebur alam beserta isinya.

 TRIMURTI terdiri dari 3, yaitu :


http://3.bp.blogspot.com/-PEgo93y1bVY/UfjAC7W2T6I/AAAAAAAAA0A/nmgiyaJPd6U/s1600/SARASVATI+DEVI.jpg
DEWI SARASWATI DEWA BRAHMA

 Fungsi:     Pencipta / Upathi
 Sakti:        Dewi Saraswati  (Dewi Ilmu Pengetahuan)
 Senjata:    Busur, Gada
 Wahana:   Angsa
 Simbol:     A
 Warna:     Merah

Kisah Kelahiran Brahma
Dalam Manusmrti (Manavadharmasastra) buku I sloka 9 disebutkan:
"Tad andam abhavad haiman,
Sahasramsusamaprabham,
tasmin jajna svayam brahma,
sarva loka pita maha"
yang memiliki arti bebas: Benih menjadi telur alam semesta yang Maha Suci, cemerlang laksana jutaan sinar. Dari dalam telur itu Ia menjadikan dirinya sendiri menjadi Brahma, pencipta cikal bakal jagat raya ini.
Brahma dianggap sebagai perwujudan dari Brahman, jiwa tertinggi yang abadi dan muncul dengan sendirinya.
Menurut Kitab Satapatha Brahmana, disebutkan bahwa Dewa Brahma yang menciptakan, menempatkan, dan memberi tugas dewa-dewi lainnya.
Sedangkan dalam kitab Mahabharata dan Purana, dikatakan bahwa Dewa Brahma merupakan leluhur dunia yang muncul dari pusar Dewa Wisnu, sebagai pencipta dunia Brahma dikenal dengan nama Hiranyagarbha atau Prajapati.

Karakteristik Dewa Brahma
Dewa Brahma digambarkan sebagai sosok dewa dengan empat muka yang menghadap ke empat penjuru arah mata angin (Caturmukha Brahma) yang melambangkan kekuasaan terhadap Catur Weda, Catur Yuga (empat siklus waktu), Catur Warna (empat pembagian masyarakat berdasarkan keterampilan). Beliau dilukiskan sebagai seorang pria tua dengan janggut putih yang memiliki makna leluhur dari seluruh jagat raya, memiliki empat tangan yang memegang alat-alat seperti:
  1. Aksamala/tasbih : simbol tiada awal dan tiada akhir.
  2. Sruk (sendok besar), dan Surva(sendok biasa) simbol dari upacara yadnya.
  3. Kamandalu/kendi simbol dari keabadian.
  4. Pustaka yang merupakan simbol dari Ilmu Pengetahuan.
Beliau berwahana Hamsa (Angsa) putih yang merupakan simbolisasi dari kebijaksanaan, dan kemampuan memilah baik dan buruk. Terkadang beliau juga digambarkan sedang duduk dalam keadaan meditasi diatas bunga Padma (lotus) Merah yang merupakan lambang Kesucian lahir bathin.
Dewa Brahma disandingkan dengan Dewi Saraswati sebagai dewi Ilmu Pengetahuan. Hal ini merupakan sebuah makna tersirat bahwa suatu penciptaan atau suatu karya tanpa landasan ilmu pengetahuan adalah sia-sia.

Dewa Brahma di Bali
Dalam kehidupan beragama Hindu di Bali, dewa Brahma tidak pernah bisa dilepaskan dari nafas berkeagamaan di Bali.Penggambaran Dewa Brahma di masyarakat Hindu Bali tidak jauh berbeda dengan penggambarannya di India. Dalam kepercayaan di Bali Dewa Brahma diyakini sebagai Dewanya Dapur, Penguasa dan pelindung arah Selatan, bersenjatakan Gada, berwahana Angsa, memiliki Sakti Dewi Saraswati, atribut serba merah,
Dalam Pemujaan dilingkungan desa adat, beliau dipuja di sebuah pura yang bernama Pura Desa atau Pura Bale Agung, yang mana dalam pura ini akan ada bangunan yang terbuat dari batu bata sebagai penghormatan kehadapan beliau. Sedangkan secara regional Bali, pemujaan Dewa Brahma berada di Pura Luhur Andakasa.

Mantram
Mantram atau doa pujian yang ditujukan kehadapan Dewa Brahma sebagai Sang Pencipta disebut Brahma Stawa
  1. OM NAMASTE BHAGAWAN AGNI, NAMASTE BHAGAWAN HARI, NAMASTE BHAGAWAN ISA, SARWA BHAKSA HUTASANA
  2. TRI WARNA BHAGAWAN AGNI, BRAHMA WISNU MAHESWARAH, SANTIKAM PAUSTIKAM SIWA,RAKSANAM CABHICARIKAM
  3. ANUJNANAM KRTAM LOKE, SAUBHAGAM PRIYA DARSANAM, YAT KINCIT SARWA KARYANAM, SIDDHIR EVA NA SAMSAYAH
  4. OM BRAHMA PRAJAPATIH SRESTHAH, SVAYAMBHUR VARADO GURUH, PADMAYONIS CATUR VAKTRO, BRAHMA SAKALAM UCYATE
  5. NAMOSTU BHAGAWAN AGNI, SARVOKTEMA HUTASANA, VAJRA SARA MAHA SARA, DIPTO GNIH JVALANAS TATHA
  6. SARVA PAPA PRASAMANAM , HIRANYAGARBHA SAMBHAWAM, LOKANAM CA SARIRAN CA, SUKHAM AGNIH PRAM UCYATE.
 Artinya:
  1. Sembah padamu Dewa Agni, Sembah padamu Dewa Hari, sembah padamu Dewa Isa, yang menyaksikan segala jenis pengorbanan.
  2. Dewa Agni memiliki tiga penampilan, Brahma , Wisnu dan Maheswara , penyebab ketenangan, makanan dan perlindungan
  3. Perkenannya dihasilkan di dunia, peruntungan bagus, menyenangkan sekali untuk dilihat, perbuatan apapun akan berhasil tanpa suatu keraguan.
  4. Dewa Brahma dewa segala mahkluk, Dia yang paling mulia, dia yang memberikan anugrah pada Guru, dia yang dilahirkan dari Bunga Teratai, yang berwajah empat, demikianlah Brahman yang sempurna .
  5. Dewa Agni peredam segala kejahatan, yang lahir dari benih keemasan, badan dari alam semesta, dan merupakan kebahagiaan yang tertinggi.
 Putra-Putri Dewa Brahma
  • Marici, Angirasa, Atri, Pulastya, Pulaha , dan Kratu lahir dari Pikiran Dewa Brahma.
  • Dhata dan Vidhata
  • Prajapati Daksa lahir dari jari kaki kanan Dewa Brahma.
  • Svayambhu Manu
  • Kandarpa/Kamadewa Dewa Asmara yang lahir dari ego Dewa Brahma.
  • Bhrgu lahir dari api pemujaan Brahma.
  • Madhuka dan Golika
  • Jambavan terlahir dari Keringat Dewa Brahma
  • Sanaka
Siklus Dewa Brahma
Brahma hidup selama seratus tahun Kalpa. Satu tahun Kalpa sama dengan 3.110.400.000.000 tahun. Setelah seratus tahun Kalpa, maka Dewa Siwa sebagai Dewa pelebur mengambil perannya untuk melebur alam semesta beserta isinya untuk dikembalikan ke asalnya. Setelah itu, Brahma sebagai pencipta tutup usia, dan alam semesta bisa diciptakan kembali oleh kehendak Tuhan.

 Nama Lain Dewa Brahma
  • ATMABHU = Dia yang lahir sesuai keinginannya.
  • SURAJYESTHA = yang berwujud mendahului seluruh Dewata
  • PARAMESTHIN = Dia yang tinggal dalam dunia kebenaran.
  • PITAMAHA = Kakek moyang seluruh arwah.
  • HIRANYAGARBHA = telur keemasan.
  • LOKESA = Penguasa Alam
  • `SVAYAMBHU = Melahirkan dirinya sendiri.
  • CATURANANA/CATURMUKHA = Memiliki empat wajah.
  • ABJAYONI = Lahir dari Bunga Teratai.
  • DRUHINA = yang membunuh segala macam Raksasa (kejahatan).
  • VIRANCI = Sang Pencipta.
  • KAMALASANA = yang duduk diatas Bunga Teratai.
  • SRSTA = yang menciptakan.
  • PRAJAPATIH = Penguasa semua Mahkluk.
  • VIDHATA = yang menjadikan segala sesuatu.
  • VISVASRT = Dia yang menciptakan dunia.
  • VIDHI = Dia yang menciptakan dan mengadili.
  • NABHIJANMA= yang lahir dari pusar Wisnu.
  • ANDAJA = yang muncul dari Telur.
  • HAMSAVAHANA = yang mengendarai Angsa.
  • AGNI = Sang Api.
  • VISVAKARMA = Arsitek Alam Semesta.
http://1.bp.blogspot.com/-9t4ROcyG6oU/UDiYLHqB8uI/AAAAAAAAnfs/Rvvi-b6P9pM/s1600/vishnu_PY30_l.jpg
DEWA WISNU DEWI LAKSMI

 Nama Lain: Narayana
 Fungsi:        Pemelihara / Sthiti
 Sakti:           Dewi Laksmi atau Sri
 Senjata:      Cakra Sudarsana
 Planet:        Waikunta
 Wahana:     Garuda
 Mantra:      Om Namo Narayanaya
 Simbol:       U
 Warna:       Hitam
Dalam filsafat Hindu Waisnawa, Ia dipandang sebagai roh suci sekaligus dewa yang tertinggi. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu dipandang sebagai salah satu manifestasi Brahman dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri yang menyaingi atau sederajat dengan Brahman.

Wujud Dewa Wisnu
Dalam Purana, dan selayaknya penggambaran umum, Dewa Wisnu dilukiskan sebagai dewa yang berkulit hitam-kebiruan atau biru gelap; berlengan empat, masing-masing memegang: gada, lotus, sangkala, dan chakra. Yang paling identik dengan Wisnu adalah senjata cakra dan kulitnya yang berwarna biru gelap. Dalam filsafat Waisnawa, Wisnu disebutkan memiliki wujud yang berbeda-beda atau memiliki aspek-aspek tertentu.
Dalam filsafat Waisnawa, Wisnu memiliki enam sifat ketuhanan:
  • Jñāna: mengetahui segala sesuatu yang terjadi di alam semesta
  • Aishvarya: maha kuasa, tak ada yang dapat mengaturnya
  • Shakti: memiliki kekuatan untuk membuat yang tak mungkin menjadi mungkin
  • Bala: maha kuat, mampu menopang segalanya tanpa merasa lelah
  • Virya: kekuatan rohani sebagai roh suci dalam semua makhluk
  • Tèjas: memberi cahaya spiritualnya kepada semua makhluk
Penggambaran Dewa Wisnu
Dalam Purana, Wisnu disebutkan bersifat gaib dan berada dimana-mana. Untuk memudahkan penghayatan terhadapnya, maka simbol-simbol dan atribut tertentu dipilih sesuai dengan karakternya, dan diwujudkan dalam bentuk lukisan, pahatan, dan arca. Dewa Wisnu digambarkan sebagai berikut:
  • Seorang pria yang berlengan empat. Berlengan empat melambangkan segala kekuasaanya dan segala kekuatannya untuk mengisi seluruh alam semesta.
  • Kulitnya berwarna biru gelap, atau seperti warna langit. Warna biru melambangkan kekuatan yang tiada batas, seperti warna biru pada langit abadi atau lautan abadi tanpa batas.
  • Di dadanya terdapat simbol kaki Resi Brigu.
  • Juga terdapat simbol srivatsa di dadanya, simbol Dewi Laksmi, pasangannya.
  • Pada lehernya, terdapat permata Kaustubha dan kalung dari rangkaian bunga
  • Memakai mahkota, melambangkan kuasa seorang pemimpin
  • Memakai sepasang giwang, melambangkan dua hal yang selalu bertentangan dalam penciptaan, seperti: kebijakan dan kebodohan, kesedihan dan kebahagiaan, kenikmatan dan kesakitan.
  • Beristirahat dengan ranjang Ananta Sesa, ular suci.
 Wisnu sering dilukiskan memegang empat benda yang selalu melekat dengannya, yakni:
  • Terompet kulit kerang atau Shankhya, bernama "Panchajanya", dipegang oleh tangan kiri atas, simbol kreativitas. Panchajanya melambangkan lima elemen penyusun alam semesta dalam agama Hindu, yakni: air, tanah, api, udara, dan ether.
  • Cakram, senjata berputar dengan gerigi tajam, bernama "Sudarshana", dipegang oleh tangan kanan atas, melambangkan pikiran. Sudarshana berarti pandangan yang baik.
  • Gada yang bernama Komodaki, dipegang oleh tangan kiri bawah, melambangkan keberadaan individual.
  • Bunga lotus atau Padma, simbol kebebasan. Padma melambangkan kekuatan yang memunculkan alam semesta
 Lima Wujud Dewa Wisnu
 Dalam ajaran di asrama Waisnawa di India, Wisnu diasumsikan memiliki lima wujud, yaitu:
  • Para. Para merupakan wujud tertinggi dari Dewa Wisnu yang hanya bisa ditemui di Sri Waikunta, juga disebut Moksha, bersama dengan pasangannya — Dewi Lakshmi, Bhuma Dewi dan Nila Di sana Ia dikelilingi oleh roh-roh suci dan jiwa yang bebas.
  • Vyuha. Dalam wujud Vyuha, Dewa Wisnu terbagi menjadi empat wujud yang mengatur empat fungsi semesta yang berbeda, serta mengontrol segala aktivitas makhluk hidup.
  • Vibhava. Dalam wujud Vibhava, Wisnu diasumsikan memiliki penjelmaan yang berbeda-beda, atau lebih dikenal dengan sebutan Awatara, yang mana bertugas untuk membasmi kejahatan dan menegakkan keadilan di muka bumi.
  • Antaryami. Antaryami atau “Sukma Vasudeva” adalah wujud Dewa Wisnu yang berada pada setiap hati makhluk hidup.
  • Arcavatara. Arcavatara merupakan manifestasi Wisnu dalam imajinasi, yang digunakan oleh seseorang agar lebih mudah memujanya sebab pikirannya tidak mampu mencapai wujud Para, Vyuha, Vibhava, dan Antaryami dari Wisnu.
 Awatara
 Dalam Purana, Dewa Wisnu menjelma sebagai Awatara yang turun ke dunia untuk 
 menyelamatkan dunia dari kejahatan dan kehancuran. Wujud dari penjelmaan Wisnu tersebut
 beragam, hewan atau manusia. Awatara yang umum dikenal oleh umat Hindu berjumlah
 sepuluh yang disebut Dasa Awatara atau Maha Avatār.
 Sepuluh Awatara Wisnu:
  • Matsya (Sang ikan)
  • Kurma (Sang kura-kura)
  • Varaha (Sang Babi hutan)
  • Narasingha (Sang manusia-singa)
  • Vamana (Rama bersenjatakan beliung / Sang orang cebol)
  • Parasurama (Sang Brāhmana-Kshatriya)
  • Rama (Sang pangeran)
  • Kresna (Sang pengembala)
  • Buddha (Sang pemuka agama)
  • Kalki (Sang penghancur)
Di antara sepuluh awatara tersebut, sembilan di antaranya diyakini sudah menjelma dan pernah turun ke dunia oleh umat Hindu, sedangkan awatara terakhir (Kalki) masih menunggu hari lahirnya dan diyakini menjelma pada penghujung zaman Kali Yuga.
http://1.bp.blogspot.com/_8Zq1w8yKbc0/THdKh5nwToI/AAAAAAAAAAM/FQjMNs0Q_Mg/s400/Shiva_parvati01.jpg
DEWA SIWA DEWI DURGA DEWA GANESHA

Nama Lain: Jagatpati, Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, Trinetra
Fungsi:        Penghancur / Pralina
Sakti:           Dewi Durga, Uma, dan Parwati
Senjata:       Trisula
Wahana:      Lembu Nandini
Simbol:        M
Warna:        Manca Warna

Karakteristik Dewa Siwa
Umat Hindu, khususnya umat Hindu di India, meyakini bahwa Dewa Siwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakternya, yakni:
  • Bertangan empat, masing-masing membawa:
    trisula, cemara, tasbih/genitri, kendi
  • Bermata tiga (tri netra)
  • Pada hiasan kepalanya terdapat ardha chandra (bulan sabit)
  • Ikat pinggang dari kulit harimau
  • Hiasan di leher dari ular kobra
  • Kendaraannya lembu Nandini
Oleh umat Hindu Bali, Dewa Siwa dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia dan makhluk hidup lainnya ke unsurnya, menjadi Panca Maha Bhuta. Dalam pengider Dewata Nawa Sanga (Nawa Dewata), Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Ia bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Ia dipuja di Pura Besakih.
Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru. Adya / Siwa / Pusat / Segala Warna (Cahaya) = peleburan kemanunggalan

Putra Dewa Siwa
 Menurut cerita-cerita keagamaan yang terdapat dalam kitab-kitab suci umat Hindu, Dewa Siwa memiliki putra-putra yang lahir dengan sengaja ataupun tidak disengaja. Beberapa putra Dewa Siwa tersebut yakni:
  1. Dewa Kumara (Kartikeya)
  2. Dewa Kala
  3. Dewa Ganesa

Kamis, 22 Maret 2012

KERAJAAN KUTAI

Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua bercorak Hindu di Indonesia.
LEMBUSWANA

Letak Kerajaan Kutai tepatnya di hulu sungai Mahakam, Kalimantan




















YUPA
Sumber kerajaan Kutai , berasal dari tujuh buah yupa sebagai peningkatan kerajaan kutai.
Pendiri dinasti Kerajaan Kutai adalah Aswawarman yang diberi gelar Wangsakerta
Puncak keemasan Kerajaan Kutai adalah pada masa Mulawarman. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir wilayah Kalimantan Timur pada masa kini.

Ekonomi : 
- Bertani di sawah dan di ladang ,
- Perdagangan
Sosial     : 
- Kehidupan masyarakatnya sudah teratur,
- Pada masyarakatnya, terdapat golongan Brahmana, Ksatria dan masyarakat umum.
Budaya dan Agama :
- Sudah dipengaruhi oleh kebudayaan India
- Golongan Istana, Brahmana dan Ksatria menganut agama Hindu
- Masyarakat umumnya masih menjalani adat istiadat dan kepercayaan asli mereka.

Kolom Sejarah 
Kerajaan tertua bercorak Hindu di Indonesia adalah kerajaan kutai. Kerajaan ini terletak di Kalimantan, terdapatnya di hulu Sungai Mahakam. Nama Kutai diambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan oleh ahli karena tidak ada prasasti yang jelas menyebutkan nama kerajaan ini. Sumber sejarah yang menggambarkan pengaruh Hindu pada kerajaan ini berupa tujuh buah tiang batu seperti menhir berukuran kecil . Tiang batu tersebut disebut yupa. Diperkirakan yupa berasal dari abad ke 5-M. Pada masanya, yupa dipergunakan sebagai tempat mengikat hewan kurban yang akan dipersembahkan kepada para Dewa yang dipuja. Pada yupa, terdapat tulisan berhuruf palawa dan bahasa sansekerta. Huruf palawa  biasa digunakan oleh masyarakat India Selatan.

Selasa, 20 Maret 2012

Evaluasi Bab Hindu - Buddha

A. Pilih salah satu jawaban yang tepat

1. Bangsa yang datang ke kota Mohenjo - Daro dan Harappa yang mengembangkan agama Hindu adalah bangsa...
a. Mesopotamia
b. Mesir
c. Arab
d. Arya
e. Asia

2. Bangsa Arya datang ke Mohenjo - Daro dan Harappa melalui celah....
a. Kaiber
b. Petra
c. Munda
d. Yordania
e. Suriah

3. Gambaran mengenai kehidupan masyarakat Mohenjo - Daro dan Harappa tertulis dalam kitab....
a. Rigveda
b. Yajus veda
c. Arya veda
d. Sama veda
e. Atharva veda

4. Perkembangan kebudayaan Hindu pada awalnya terjadi di ...
a. Lembah sungai Nil
b. Lembah sungai Tigris
c. Lembah sungai Eufrat
d. Lembah sungai Indus
e. Lembah sungai Kuning

5. Pembagian Kasta di India berdasarkan pada....
a. Pembagian wilayah
b. Garis keturunan
c. Pembagian kerja
d. Aturan dalam kitab Veda
e. Aturan dari para Brahmana

6. Kasta yang bertugas mengurusi kehidupan keagamaan adalah kasta...
a. Sudra
b. Paria
c. Waisya
d. Ksatria
e. Brahmana

7. Kebudayaan Hindu merupakan perpaduan antara kebudayaan Arya dan kebudayaan....
a. Mesopotamia
b. Mesir
c. Dravida
d. Arab
e. Persia

8. Tanah milik bangsa Hindu disebut juga ....
a. Hindustan
b. Aryavarta
c. Dravida
d. Upanishad
e. Aranyakas

9. Arti dari kata "Buddha" adalah...
a. Seseorang yang telah mengerti
b. Seseorang yang telah mendapat pencerahan
c. Seseorang yang telah tersadarkan
d. Seseorang yang telah tahu
e. Seseorang yang berpengetahuan

10. Agama Buddha muncul sebagai ....
a. Hasil pola akulturasi masyarakat
b. Pelurus masyarakat yang telah hancur
c. Reaksi terhadap dominasi golongan Brahmana dalam ritual dan kepercayaan masyarakat India
d. Perwujudan Ilham dari seorang penguasa dalam tatanan masyarakat India
e. Tatanan nilai yang dinilai baik oleh masyarakat India

11. Kesempurnaan atau nirwana dalam agama Buddha dapat dicapai dengan...
a. Mengendalikan hawa nafsu dan egoisme
b. Semedi seumur hidup
c. Tidak makan dan minum
d. Berkorban
e. Melakukan pengembaraan

12. Dibawah ini tiga kumpulan tulisan Tripitaka adalah...
a. Sutta Pitaka, Vinaya Pitaka, Adhidarma Pitaka
b. Sutta Pitaka, Upanishad Pitaka, Prakrit Pitaka
c. Aranyakas Pitaka, Vinaga Pitaka, Atharua Pitaka
d. Rig Pitaka, Aranyakas Pitaka, Adhidarma Pitaka
e. Sutta Pitaka, Samsara Pitaka, Adhidarma Pitaka

13. Bagian dari Tripitaka yang merupakan kondifikasi aturan-aturan yang berkenaan dengan kehidupan pendeta adalah kitab....
a. Sutta Pitaka
b. Vinaya Pitaka
c. Abdidarma Pitaka
d. Upanishad
e. Aranyakas

14. Aliran dalam agama Buddha yang mengajarkan bahwa untuk mencapai nirwana setiap orang harus mengembangkan kebijaksaanaan dan sifat welas asih adalah aliran....
a. Hinayana
b. Udayana
c. Samsara
d. Mahayana
e. Prakrit

15. Agama Buddha mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan
a. Chandagupta 1
b. Samudragupta
c. Ashoka
d. Asoka Gupta
e. Maurya

16. Pengaruh Hindu - Buddha di Indonesia dibawa dan disebarkan oleh para pedagang India. Teori ini dikenal dengan teori...
a. Brahmana
b. Ksatria
c. Waisya
d. Sudra
e. Paria

17. Bukti dipengaruhinya Nusantara oleh kebudayaan Hindu - Buddha adalah....
a. Digunakannya huruf Palawa di bahasa Sansekerta
b. Digunakannya huruf Palawa di bahasa India
c. Dibangunnya pusat-pusat perdagangan
d. Tumbuhnya kota-kota baru
e. Adanya sistem kasta

18. Kitab Negarakertagama adalah karangan...
a. Mpu Sendok
b. Mpu Panuluh
c. Mpu Kanwa
d. Mpu Dharmaja
e. Mpu Prapanca

19. Pengaruh Hindu - Buddha pada bidang pendidikan adalah...
a. Teknik pembangunan candi
b. Penggunaan huruf Palawa dan bahasa Sansekerta
c. Adanya perubahan pada sistem sosial
d. Banyak yang menjadi biksu
e. Pembangunan candi sebagai tempat pemujaan

20. Ciri khas bangunan asli Indonesia yang telah dipengaruhi Hindu-Buddha adalah...
a. Bentuk punden berundak
b. Pemahatan relief
c. Cerita dalam relief
d. Bentuk puncak candi
e. Perwujudan arca


B.Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat !

1. Jelaskan latar belakang perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia !
2. Sebutkan beberapa perbedaan antara agama Hindu dan Buddha!
3. Apakah yang dimaksud dengan samsara?
4. Apa faktor-faktor yang melatarbelakangi mudahnya proses akulturasi budaya Hindu-Buddha dan budaya Indonesia?
5. Mengapa seni arsitektur Indonesia mudah menerima pengaruh seni arsitektur Hindu-Buddha?
6. Jelaskan pokok ajaran agama Buddha aliran Hinayana dan aliran Mahayana?
7. Mengapa agama Hindu-Buddha relatif mudah masuk ke Indonesia?
8. Jelaskan pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap masyarakat Indonesia?
9. Bagaimana sistem dan struktur sosial pada masa kerajaan Hindu-Buddha?
10. Uraikan mengenai pengaruh budaya Hindu-Buddha di Indonesia pada bidang pendidikan?

Kamis, 15 Maret 2012

TRADISI HINDU - BUDDHA DI INDONESIA

Fakta Proses Interaksi Masyarakat Indonesia dengan Tradisi Hindu - Buddha

Masuknya agama dan kebudayaan Hindu - Buddha mempengaruhi berbagai segi kehidupan masyarakat Indonesia, diantaranya
1. Bidang Teknologi
2. Bidang Sosial
3. Bidang Politik , dan
4. Kepercayaan

1.Bidang Teknologi
Masuknya agama dan budaya Hindu - Buddha ke Indonesia juga turut mempengaruhi kecakapan masyarakat Indonesia dalam bidang pertanian. Pengelolaan sistem irigasi yang baik mulai diperkenalkan. Misalnya, terlihat dari relief candi-candi yang menggambarkan teknologi irigasi di zaman Kerajaan Majapahit.  Juga dalam bidang arsitektur di Indonesia. Bangunan candi merupakan hasil karya ahli-ahli bangunan agama Hindu-Buddha yang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Contohnya : Candi Prambanan, dan Candi Borobudur.
PUNDEN BERUNDAK
Salah satu peninggalan dari agama Buddha-Hindu di Indonesia adalah bangunan candi. Bangunan candi yang memiliki ciri unik, salah satunya adalah Borobudur.
Bangunan ini berupa Punden Berundak , yang menjadi ciri khas bangunan megalitikum di Indonesia pada zaman prasejarah. Pada bangunannya, tidak terdapat ruang utama yang menjadi pusat kegiatan.
Setiap bagian Candi Borobudur menjadi penting karena menceritakan kisah tentang perjalanan manusia di dunia hingga mencapai nirwana.



2. Bidang Pendidikan
Dengan masuknya agama Hindu-Buddha, sebagian masyarakat Indonesia mulai mengenal budaya baca dan tulis. Bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa yang digunakan dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia
Dalam bidang pendidikan diterapkan pula sistem pendidikan berasrama (ashram) dan sekolah-sekolah (pasraman), khusus untuk mempelajari agama Hindu-Buddha.




Sejumlah sastrawan pada masa kerajaan Hindu-Buddha yang menghasilkan karya-karya sastra bermutu tinggi tersebut, antara lain 

1. Empu Sedah dan Mpu Panuluh (Bharatayudha)








2. Mpu Kanwa (Arjuna Wiwaha)











3. Mpu Dharmaja (Smaradhana)

4. Mpu Prapanca (Negarakertagama)
Dalam Negarakertagama, ia diperkirakan bernama Pancakarsa. Sebelum menjadi pendeta Buddha, ia bernama Winada. Prapanca hidup pada masa Jayanegara sampai Hayam Wuruk.
Ayahnya bernama Samenaku, seorang pendeta yang menjabat sebagai Dharmadyaksa Ring Kasogotasan, sebuah jabatan yang di warisi oleh Prapanca.
Tulisannya yang terkenal adalah 'Negarakertagama' tahun 1365. Kitab ini ditemukan di daerah Lombok. Menurut Krom, ini adalah penemuan penting sebagai sumber sejarah Majapahit.
Tanggapan Prapanca serta cara-cara menyusun bahan-bahan sejarah tidak jauh berbeda dengan penulis kitab lainnya.






5. Mpu Tantular (Sutasoma)











3. Bidang Sosial dan Pemerintahan
Dalam bidang sosial dan pemerintahan, pengaruh Hindu-Buddha mendorong terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia yang dipimpin oleh raja yang berkuasa secara turun-temurun.

4. Kepercayaan
Masuknya agama Hindu-Buddha mendorong masyarakat Indonesia mulai menganut agama Hindu atau Buddha. Meskipun begitu, masyarakat Indonesia tidak meninggalkan kepercayaan aslinya, seperti pemujaan terhadap arwah nenek moyang.

Selasa, 13 Maret 2012

TEORI MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA SERTA KEBUDAYAAN HINDU - BUDDHA KE INDONESIA






Proses masuknya pengaruh India ke Indonesia diperkirakan terjadi sejak abad pertama Masehi. Tentang proses ini , terdapat beberapa pendapat yang saling bertolak belakang dari para ahli sejarah.

Ada pendapat yang menganggap bahwa bangsa Indonesia bersikap pasif dan hanya menerima saja pengarruh budaya yang datang dari India.



Menurut para ahli sejarah yang mendukung pendapat ini, pengaruh budaya India yang masuk ke Indonesia melalui kolonisasi, baik secara langsung maupun tidak langsung dari bangsa India. Para ahli sejarah kemudian mengajukan tiga teori yang menjelaskan bagaimana bangsa India memperkenalkan kebudayaannya kepada Bangsa Indonesia.
Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut :

a. Teori Brahmana (J.C.Van Leur)
Menurut teori ini Brahmana India datang ke Indonesia atas undangan para kepala suku setempat. Kaum Brahmana inilah yang menyebarluaskan ajaran agama dan budaya di Indonesia. Budaya yang mereka perkenalkan adalah budaya golongan Brahmana.






b. Teori Ksatria (F.D.K. Bosch)
Menurut teori ini, raja-raja India datang menyerang dan mengalahkan suku-suku di Indonesia.









c. Teori Waisya (N.J.Krom)
Menurut teori ini, pengaruh Hindu - Buddha dibawa dan disebarkan oleh para pedagang India yang singgah di kota-kota Indonesia. Tidak hanya itu, para pedagang India juga berasimilasi dengan penduduk setempat.







Dari ketiga teori tersebut , teori Brahmana memiliki dasar penjelasan paling kuat (J.C Van Leur). Hal ini didasarkan pada fakta-fakta bahwa kekuasaan terbesar dalam agama Hindu dipegang oleh kaum Brahmana.
Kitab Veda hanya boleh dibaca dan diajarkan oleh kaum Brahmana. Kasta lain tidak mungkin dapat menyebarkan ajaran agama Hindu. Tulisan dalam prasasti dan bangunan dalam keagamaan Hindu yang ditemukan di Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang hanya digunakan oleh kaum Brahmana dalam kitab-kitab Veda dan upacara keagamaan.Oleh karena itu, penyebarluasan  agama Hindu tidak mungkin dilakukan oleh kaum Waisya yang menjadi pedagang.


Proses masuknya agama Buddha ke Indonesia ada yang melalui pendeta agama Buddha (Bikhsu). Para bikhsu itu pergi ke seluruh dunia melalui jalur perdagangan. Dengan tekun para pendeta mengajarkan agama Buddha. Terbentuklah komunitas agama Buddha di berbagai macam daerah. Akhirnya para bikhsu dari India dan dari berbagai macam wilayah saling mengunjungi. Dengan ini, tumbuh seni agama Buddha di Indonesia dan daerah-daerah di Asia Tenggara.
Agama Buddha berbeda dengan agama Hindu. Para Bikhsu agama Buddha diharuskan menyebarkan agama Buddha. Sementara itu, para Brahmana agama Hindu tidak wajib menyebarkan agama Hindu. Agama Hindu pada dasarnya bukanlah agama untuk umum.
Pandangan agama tersebut hanya mungkin dilakukan oleh golongan Brahmana. Para Brahmana diundang oleh raja-raja Indonesia. Mereka menjadi tokoh terhormat dan berpengaruh di kerajaan. Pengaruh mereka ini akhirnya menyebar ke kalangan yang lebih luas.

Siddharta Gautama

Siapakah Siddharta Gautama?

Siddharta Buddha Gautama (563-483 SM)


Nama asli Sang Buddha adalah Siddharta dengan marga Gautama dari suku Sakya. Ia adalah putra seorang raja Kerajaan Kapilavastu, yang terletak di timur laut India, dan berbatasan dengan negara Nepal.
Siddharta lahir di Lumbini pada tahun 563 SM. Ia menikah pada usia 16 tahun. Meski ia dibesarkan di istana yang mewah dan megah, Siddharta tidak pernah merasa nyaman dengan kehidupannya. Ia tahu bahwa banyak orang di luar istana yang hidup dalam kesusahan. Orang-orang kaya banyak juga yang merasa frustasi dan tidak bahagia.



Setelah anaknya yang pertama lahir, di usianya yang ke 29 tahun, Siddharta memutuskan untuk meninggalkan kehidupan dunia. Ia menjadi seorang pengembara dan meninggalkan kerajaannya, istrinya dan anak laki-lakinya. Pertama kali ia belajar menjadi orang bijak yang ada pada waktu itu. Setelah merasa cukup memiliki pengetahuan , ia tiba pada titik bagaimana memecahkan masalah ketidakpuasan manusia.
Jawaban atas segala kesulitan hidup manusia didapatinya dengan perenungan dan pergaulan dengan masyarakat. Ketika ia merenungkan permasalahan hidup manusia semalaman, ia mendapatkan jawabannya ketika fajar datang. Mulai sejak saat itu, ia menyebut dirinya Buddha atau orang yang tercerahkan.


Pokok ajarannya terangkum dalam
Empat Kebijakan Kebenaran. Yang intinya adalah
1. Hidup manusia pada dasarnya tidak bahagia
2. Sebabnya adalah rasa egois dan nafsu
3. Nafsu dan egois dapat diletakan habis jika egois dan nafsu dapat ditiadakan
4. Menimbang benar , mengingat benar dan meditasi benar


Buddha wafat pada tahun 483 SM diusianya yang ke 80 tahun. Selama sisa hidupnya setelah mendapat pencerahan , ia habiskan untuk mengajarkan apa yang menjadi pemahamannya.